JOMBANG — Pengurus Himpunan Alumni Bumi Damai Al-Muhibbin (H.I.K.A.M.) menggelar gala dinner di Gedung KH. Djamaluddin Achmad Center (KJA Center), Tambakberas, Jombang, sebagai momentum penguatan karakter alumni, pelestarian warisan keilmuan KH. Moch. Djamaluddin Ahmad, serta konsolidasi organisasi menjelang Haul ke-5 pada Desember 2026. Kegiatan yang berlangsung pukul 18.00–22.00 WIB tersebut juga diisi dengan sosialisasi H.I.K.A.M. Award, berbagi kisah keteladanan Mbah Yai Djamal, dan koordinasi persiapan haul.
Rangkaian acara diawali dengan pembacaan Huwal Habib dan Dalail Khairat secara berjamaah oleh anggota H.I.K.A.M. Jombang. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pembukaan, pembacaan tahlil, dan doa yang dipimpin KH. Amir Syaifuddin dari Blitar.
Ketua Umum H.I.K.A.M. Tekankan Lima Karakter Ideal Alumni
Dalam sambutannya, Ketua Umum H.I.K.A.M. Pusat, KH. Nur Hadi NY. atau yang akrab disapa Mbah Bolong, menekankan lima karakter utama yang diharapkan melekat pada setiap alumni H.I.K.A.M. Kelima karakter tersebut adalah Munadhdhim (pengatur), Muwahhid (pemersatu), Murobbi (pendidik), Mujaddid (pembaharu), dan Mujahid (pejuang).
Menurut konsep yang disampaikan dalam forum tersebut, karakter Munadhdhim menuntut alumni mampu menata, mengatur, dan mengelola amanah secara tertib dan bertanggung jawab. Adapun Muwahhid menempatkan alumni sebagai perekat persaudaraan yang mampu menyatukan perbedaan, membangun kekompakan, dan menggerakkan kebersamaan demi kemaslahatan.
Karakter Murobbi menegaskan pentingnya peran alumni sebagai pendidik yang tidak hanya menyampaikan ilmu, tetapi juga memberikan pembinaan dan keteladanan melalui perilaku sehari-hari. Sementara itu, Mujaddid menggambarkan semangat pembaruan dan inovasi tanpa meninggalkan tradisi baik yang telah diwariskan para pendahulu.
Karakter kelima, Mujahid, mengandung pesan agar alumni menjadi pejuang yang tekun, konsisten, dan tidak mudah menyerah dalam menjalankan pengabdian. Perjuangan, dalam kerangka ini, tidak berhenti pada gagasan dan ucapan, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata.
Kelima karakter tersebut dirangkum dalam prinsip: Munadhdhim dalam tata kelola, Muwahhid dalam kebersamaan, Murobbi dalam keteladanan, Mujaddid dalam pembaruan, dan Mujahid dalam perjuangan.
Mbah Bolong juga mendorong pengumpulan, pembukuan, dan penyebarluasan ijazah-ijazah KH. Moch. Djamaluddin Ahmad yang berkaitan dengan aktivitas dakwah dan kehidupan sehari-hari. Menurutnya, ijazah yang pernah diterima seorang santri belum tentu diketahui atau dimiliki oleh santri lainnya. Karena itu, penghimpunan dokumen dan informasi yang masih tersebar di kalangan alumni menjadi langkah penting untuk menjaga keberlanjutan warisan keilmuan tersebut.
Kodifikasi ijazah Mbah Yai Djamal diproyeksikan menjadi salah satu agenda prioritas. Hasil penghimpunan tersebut diharapkan dapat disampaikan kepada para alumni dalam pertemuan tahunan yang dirangkaikan dengan Haul ke-5 Abah KH. Moch. Djamaluddin Ahmad pada Kamis, 17 Desember 2026.
H.I.K.A.M. Award untuk Apresiasi dan Penguatan Organisasi
Agenda berikutnya adalah sosialisasi H.I.K.A.M. Award yang disampaikan Ketua II H.I.K.A.M., Mohammad Badrus Salam, S.Pd. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan sejumlah kriteria penilaian yang akan digunakan untuk mengapresiasi kinerja H.I.K.A.M. daerah.
Kriteria tersebut meliputi keaktifan dan tata kelola organisasi, kontribusi dan dampak sosial, inovasi dan keunggulan program, solidaritas dan jejaring alumni, prestasi dan pengembangan anggota, serta integritas dan keberlanjutan organisasi.
Penjaringan peserta dilakukan melalui pengisian portofolio yang selanjutnya dinilai oleh Tim Kesekjenan. Data yang menjadi objek penilaian mencakup periode 26 Oktober 2025 hingga 26 Oktober 2026, sedangkan proses penilaian dijadwalkan dimulai pada 29 Oktober 2026.
H.I.K.A.M. Award diharapkan tidak sekadar menjadi bentuk penghargaan, tetapi juga menjadi instrumen untuk mendorong peningkatan mutu tata kelola, memperkuat kontribusi sosial, dan menginspirasi lahirnya program-program bermanfaat di lingkungan pengurus H.I.K.A.M. daerah.
Mengenang Mbah Yai Djamal melalui Kisah dan Keteladanan
Suasana gala dinner semakin bermakna ketika acara memasuki sesi storytelling tentang KH. Moch. Djamaluddin Ahmad. Sesi ini menghadirkan sejumlah alumni senior yang berbagi pengalaman, kenangan, dan pelajaran hidup dari sosok pengasuh pesantren tersebut.
Narasumber pertama, K. Sholihuddin atau Pak Pol dari Mojokerto, menceritakan kedekatan Mbah Yai Djamal dengan para santrinya. Ia menggambarkan hubungan tersebut sebagai relasi yang sangat dekat, penuh kasih sayang, dan tidak berjarak. Dalam penuturannya, kedekatan itu mengingatkannya pada hubungan Nabi Muhammad SAW dengan para sahabatnya.
Salah satu kisah yang disampaikan adalah kebiasaan Mbah Yai Djamal meminum sisa kopi santri. Bahkan, beliau menyebut tindakan tersebut sebagai bentuk tabarruk kepada santri. Kisah itu menggambarkan kerendahan hati dan penghargaan beliau terhadap orang-orang yang sedang menempuh pendidikan di pesantren.
Pak Pol juga mengisahkan cara Mbah Yai Djamal mengarahkan perilaku santri. Ketika mendapati santri bermain kartu, misalnya, beliau tidak semata-mata merespons dengan larangan, tetapi memberikan pesan agar hati tetap mengingat Allah SWT. Pendekatan tersebut memperlihatkan upaya membimbing santri melalui pengarahan dan penanaman kesadaran spiritual.
Mbah Yai Djamal juga berpesan agar identitas dan jiwa kesantrian tetap dipertahankan meskipun seseorang telah meninggalkan lingkungan pondok. Santri, dalam pandangan beliau sebagaimana dikenang Pak Pol, bukan berarti mengakhiri proses belajar ketika pulang dari pesantren, melainkan berpindah tempat untuk melanjutkan pembelajaran dan pengabdian.
Narasumber berikutnya, K. Muhammad Amin atau Cak Boncu dari Lamongan, menekankan pentingnya publikasi tentang tokoh-tokoh pesantren, khususnya Mbah Yai Djamal. Menurutnya, penyebarluasan kisah dan keteladanan para kiai merupakan bagian penting dari upaya menjaga agar nilai-nilai kebaikan mereka terus hidup dan memberikan manfaat kepada masyarakat luas.
Cak Boncu menggambarkan Mbah Yai Djamal sebagai sosok yang telaten dan memberikan perhatian terhadap berbagai aspek kehidupan santri, mulai dari persoalan keluarga, penentuan jodoh, pemberian nama anak, hingga masalah ekonomi. Perhatian tersebut menunjukkan bahwa pembinaan santri tidak terbatas pada pengajaran ilmu agama, tetapi juga menyentuh kehidupan sehari-hari.
Ia juga menyoroti ketelitian Mbah Yai Djamal dalam membimbing bacaan Al-Qur’an, terutama Surah Al-Fatihah yang menjadi salah satu rukun salat. Ketepatan pelafalan dan kefasihan membaca Al-Qur’an menjadi perhatian penting dalam pendidikan santri yang beliau jalankan.
Sementara itu, K. Zainul Ulya atau Cak Zainul dari Malang mengangkat haliyah atau kebiasaan keseharian Mbah Yai Djamal, khususnya dalam menjaga tali persaudaraan, baik dengan mereka yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia.
Cak Zainul menceritakan pengalamannya selama sekitar sepuluh tahun mengikuti kegiatan ziarah bersama Mbah Yai Djamal, para santri, dan keluarga mereka. Kegiatan sowan ke makam para ulama dan leluhur tersebut dilaksanakan setiap tanggal 21 Ramadan hingga akhir bulan Ramadan. Dalam kegiatan itu, KH. Mohammad Idris Djamaluddin, putra beliau, turut mengemudikan kendaraan.
Menurut Cak Zainul, semangat menjaga silaturahmi tersebut tetap dijalankan Mbah Yai Djamal meskipun kondisi kesehatannya menurun menjelang akhir hayat. Ia mengenang kunjungannya ketika Mbah Yai Djamal sedang sakit berat. Dalam kondisi tersebut, beliau tetap melantunkan doa untuk para santri dan alumni.
Doa yang dikenang Cak Zainul, “Ya Allah, alumni-alumni. Ya Allah, anak-anakku,” menjadi gambaran kuat tentang perhatian seorang guru kepada murid-muridnya. Baginya, kenangan tersebut memperlihatkan besarnya ikatan batin yang tetap terpelihara antara kiai, santri, dan alumni.
KH. Moch. Djamaluddin Ahmad wafat pada 24 Februari 2022 atau 23 Rajab 1443 H. Kisah-kisah yang disampaikan para alumni dalam forum tersebut menjadi pengingat bahwa warisan seorang guru tidak hanya berupa ilmu, tetapi juga keteladanan, kepedulian, dan ikatan persaudaraan.
Konsolidasi Menjelang Haul ke-5 Tahun 2026
Menjelang akhir kegiatan, agenda dilanjutkan dengan koordinasi persiapan Haul ke-5 Abah KH. Moch. Djamaluddin Ahmad yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis, 17 Desember 2026. Koordinasi dipandu H. Miftahul ‘Ulum, M.Pd.I., selaku Ketua Umum Panitia Haul ke-5 dan Rajabiyyah 2026.
Dalam pemaparannya, H. Miftahul ‘Ulum menyampaikan gambaran umum pelaksanaan kegiatan, termasuk pengaturan tempat istirahat bagi alumni. Salah satu hal yang berbeda pada penyelenggaraan tahun ini adalah pemanfaatan Gedung KH. Djamaluddin Achmad Center sebagai lokasi istirahat alumni.
Panitia juga menekankan pentingnya keterlibatan dan kontribusi para alumni untuk mendukung kelancaran seluruh rangkaian kegiatan haul. Partisipasi tersebut diharapkan tidak hanya berbentuk kehadiran, tetapi juga dukungan tenaga, pemikiran, koordinasi, dan sumber daya sesuai kemampuan masing-masing.
Gala dinner pengurus H.I.K.A.M. ini menjadi ruang pertemuan antara penguatan organisasi, peneguhan karakter alumni, pelestarian warisan keilmuan, dan persiapan agenda besar pesantren. Lima karakter ideal yang disampaikan Mbah Bolong, gagasan kodifikasi ijazah Mbah Yai Djamal, serta kisah-kisah keteladanan yang dibagikan para alumni menegaskan pentingnya menjaga kesinambungan nilai pesantren di tengah perubahan zaman.
Melalui konsolidasi tersebut, H.I.K.A.M. diharapkan semakin mampu memperkuat jejaring alumni sekaligus menerjemahkan warisan perjuangan para guru ke dalam kerja nyata yang bermanfaat bagi umat, masyarakat, bangsa, dan agama.